Berita  

Siswa di Melawi Sulap Sawit Jadi Makanan Hingga Kerajinan, Implementasi Modul Bermuatan Lokal Mulai Diterapkan

banner 728x250

Melawi – Upaya memperkuat pendidikan berbasis kearifan lokal mulai terlihat di Kabupaten Melawi. WWF Indonesia bekerjasama dengan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Melawi serta Komunitas Guru Belajar Nusantara menggelar kegiatan Karya dan Berbagi Pembelajaran Implementasi Modul Bermuatan Lokal, Kamis 1 oktober 2025 di Graha PGRI Melawi.

 

Empat sekolah menengah pertama menjadi pionir penerapan modul bermuatan lokal tersebut, yakni SMP Negeri 08 Nanga Pinoh, SMP Negeri 03 Nanga Pinoh, SMP Negeri 04 Belimbing, dan SMP Negeri 02 Belimbing Hulu.

 

Kegiatan dibuka secara resmi oleh Sekretaris Disdikbud Melawi, Ririn Kurniati. Dalam sambutannya, ia menekankan pentingnya pembelajaran ini sebagai bentuk pelestarian lingkungan sekaligus penguatan budaya di daerah.

 

“Dengan adanya modul bermuatan lokal, siswa dapat lebih mengenal, mencintai, dan menjaga lingkungan serta budaya yang ada di Kabupaten Melawi,” ujarnya.

 

Sementara itu, M. Munawir, Sustainable Commodities Coordinator WWF Indonesia, mengapresiasi karya nyata yang ditampilkan para siswa.

 

Apa yang kita harapkan dari modul ini sudah mulai terlihat. Siswa mampu berkreasi dengan memanfaatkan potensi lokal, khususnya sawit berkelanjutan, yang mereka sulap menjadi berbagai produk menarik,” terangnya.

 

Menurut Munawir, konten lokal yang kini masuk ke dalam pembelajaran sekolah bukan hanya memberi wawasan baru bagi siswa, tetapi juga menumbuhkan kepedulian akan keberlanjutan sumber daya alam.

“Pelajaran tentang sawit berkelanjutan menjadi bekal penting bagi generasi muda dalam menjaga lingkungan hidup kita,” katanya.

 

Implementasi modul bermuatan lokal ini diharapkan menjadi pintu masuk bagi sekolah-sekolah lain di Melawi untuk memperkaya proses belajar-mengajar dengan nilai kearifan lokal sekaligus mendukung pembangunan berkelanjutan di daerah.

 

Dalam kegiatan tersebut, hasil karya para siswa turut dipamerkan. Sawit yang selama ini identik dengan komoditas perkebunan, berhasil diolah menjadi kerajinan tangan unik dan makanan khas bernilai tinggi. Kue bingka dan puding berbahan dasar buah sawit bahkan berhasil memikat lidah para tamu yang hadir.

 

Kegiatan itu juga memberikan ruang untuk para siswa menjelaskan hasil karya yang mereka dihadapan puluhan para tamu yang hadir.

 

“Ini adalah pengalaman yang luar biasa untuk kami. Walaupun rasa gugup tapi kami merasa bangga bisa tampil di depan umum ini,” terang Karin salah satu siswa yang ikut tampil.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Example 728x250